Minggu, 09 November 2014

ALIRAN STRUKTURALISME



ALIRAN STRUKTURALISME

1.    Strukturalisme
Strukturalisme adalah aliran pertama dalam ilmu Psikologi. Penggagas dari aliran ini adalah bapak Psikologi, Wilhelm Wundt pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai satu disiplin limu yang mandiri, melalui penelitian laboratorium dengan menggunakan metode Introspeksi. Wundt dan pengikut-pengikutnya disebut strukturalis karena mereka berpendapat bahwa pengalaman mental yang kompleks itu sebenarnya adalah “struktur” yang terdiri atas keadaan-keadaan mental yang sederhana, seperti halnya persenyawan-persenyawan kimiawi yang tersusun dari unsur-unsur kimiawi. Ciri-ciri dari strukturalisme Wundt adalah penekanannya pada analisis atau proses kesadaran yang dipandang  terdiri atas elemen-elemen dasar, serta usahanya menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antar elemen  kesadaran tersebut. Karena pandanganya elementalistik ini, psikologi strukturalisme disebut juga psikologi elementalisme. Selain dipandang terdiri atas elemen-elemen dasar, kesadaran, oleh Wundt dan para ahli psikologi lainnya pada masa itu dipandang sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental.
Menurut  Jean Piaget, strukturalisme itu sulit dikenali karena mencakup bentuk-bentuk yang beragam sehingga sulit menampilkan sifat umum dan karena “struktur-struktur” yang dirujuk memperoleh arti yang cenderung berbeda-beda. Struktrur adalah sistem transformasi yang mengandung kaidah sebagai sistem dan yang melindungi diri atau memprkaya diri melalui peran tranformasi- tranformasinya, tanpa keluar dari batas-batasnya atau menyebabkan masuknya unsur-unsur luar. Piaget menyebutkan tiga sifat yang dimaksud dalam sebuah struktur, yakni: totalitas, transformasi, dan pengaturan diri. Sebuah struktur kata Piaget harus dilihat  sebagai sesuatu totalitas, meskipun terdiri atas sejumlah unsur, struktur unsur-unsur itu berkaitan satu sama lain dalam sebuah kesatuan. Dilihat secara hierarkis, sebuah struktur terdiri atas sejumlah sub struktur yang terikat oleh struktur yang lebih besar. Dengan demikian, pengertian struktur tidak terbatas pada konsep terstruktur, tetapi sekaligus juga mencakup pengertian proses menstruktur. Pengertian transformasi pada dasarnya sejalan dengan konsep tata bahasa generatif-transformasional Chomsky. Sifat yang dinamis ini berkaitan dengan kaidah otoregulasi yang ada pada sebuah strutur.
Tokoh strukturalisme lain adalah Edward Bradford Titcherner (1867-1927). Titcherener merupakan orang Inggris yang pertama yang mewakili pandangan-pandangan psikologi Jerman (Wundt). Sebagai murid Wundt, ia menerjemahkan beberapa buku Wundt dalam bahasa Inggris. Setelah belajar di Leipzig, Titchener ingin kembali ke Oxford, namun ditolak, karena psikologi di Inggris tidak sejalan dengan Wundt. Oleh karena itu,ia pergi ke Cornell University di Amerika Serikat, dan sebagai guru besar, ia mengembangkan strukturalisme di Amerika Serikat dari universitas tersebut. Titchener-lah pembawa paham strukturalisme Wundt dan termasuk penyebar paham strukturalisme di Amerika Serikat. Berikut penjelasan singkat mengenai aliran strukturalisme berdasarkan cara pendekatan, pertanyaan dasar, titik berat, dan perumusan tentang jiwa.

STRUKTURALISME
1.      Cara pendekatan
1. Struktural. Pengalaman kesadaran      dianalisa untuk diketahui strukturnya.
2.      Pertanyaan dasar
2. Apakah jiwa itu?
3.      Titik berat
3. Isi kesadaran
4.      Perumusan tentang jiwa
4. Jiwa adalah jumlah dari pengalaman – pengalaman kesadaran.
                                                                    Tabel: Penjelasan aliran strukturalisme
2. Metode Introspeksi
Metode yang dipakai dalam strukturalisme ialah metode Instropeksi atau metode Instropektif. Introspeksi adalah melihat ke dalam (intro=kedalam; spectare=melihat). Metode introspeksi ialah suatu metode dimana individu yang menjalani treatment diminta untuk menceritakan kembali pengalamannya atau perasaannya setelah ia melakukan suatu eksperimen.
E. B. Fitchener menyebutkan bahwa introspeksi adalah seorang individu melihat kedalam dirinya dan melaporkan apa yang dialami sekarang dan pengalaman masa lalunya seperti perasaan, sikap, reaksi yang ada, harapan, keinginan dan kesenangannya.
Charles H. Coaley menggunakan istilah lain untuk intropeksi tersebut dengan Symathetic Penetration yang artinya metode digunakan untuk mengumpulkan data melalui proses belajar dari penyidik terhadap dirinya sendiri, kemudian penyidik menerapkan pada individu lain sebagai objek penyelidikanya untuk memperoleh data yang diperlukan.

3. Metode Introspeksi Eksperimental
Metode ini merupakan metode penggabungan dari introspeksi dengan eksperimen, maka sifat subjektivitas dari metode introspeksi akan dapat diatasi. Pada metode introspeksi murni hanya dari penelitian yang menjadi objek. Tetapi pada introspeksi jumlah subjek banyak, yaitu orang-orang yang dieksperimentasi. Dengan luasnya atau banyaknya subjek penyelidikan hasilnya akan bersifat objektif.
            Kelemahan pokok yang sering dikemukakan dalam metode ini adalah metode ini bersifat subjektif, karena orang sering tidak jujur dalam mengadakan penelitian terhadap dirinya sendiri, apalagi mengenai hal-hal yang tidak baik.
            Menurut Wundt istilah introspeksi ini kurang tepat, yang lebih tepat adalah retrospeksi (retro=kembali dan spectro=melihat) jadi, penyidik melihat kembali peristiwa-peristiwa kejiwaan yang terjadi dalam dirinya sendiri.  Sebab, apa yang diselidiki itu adalah apa yang telah terjadi bukan yang sedang terjadi, misal jika anda dalam kondisi marah anda tidak dapat melihat ke dalam diri anda jika anda dalam keadaan tersebut. Namun jika anda telah melalui kondisi tersebut anda dapat melihat ke dalam diri anda, anda dapat bertanya, mengapa saya marah, apa yang membuat saya marah dan lain-lain.
           Oleh karena itu, dengan menggunakan metode instropeksi secara eksperimental Wundt mencoba mengembangkan penelitian yang dilakukan berdasarkan analisa elementer untuk menemukan struktur pengalaman kesadaran dengan menganalisa kedalam unsur-unsurnya. 

4.       Kelebihan dan Kekurangan Metode Introspeksi
a)      Kelebihan:
a.    Pengalaman yang diungkapkan oleh sasaran tidak banyak dipengaruhi pihak luar
b.   Penyelidik dianggap sebagai orang untuk menampakkan perasaan oleh seseorang sehingga data dapat diungkap secara terperinci
c.    Penyelidik dapat menggunakan kesempatan dalam penggumpulan data untuk memberikan terapi atau jalan keluar dari masalah yang mungkin dialami sasaran

b)   Kekurangan :
a.    Keterbatasan pengalaman penyelidikan dan kekurangsempurnaan penyelidik untuk mengungkapkan apa yang dialami dan pengalaman masa lampau dari individu lain sebagai objek.
b.   Kemungkinan banyak pengalaman masa lampau yang dilupakan sehingga data tidak lengkap
c.    Ada pengalaman-pengalaman yang tidak diungkapkan sasaran karena hal tersebut merupakan pengalaman traumatis seperti pengalaman patah hati
d.   Keenganan sasaran menyebutkan pengalamannya karena ada rasa malu
e.    Mengungkapkan pengalaman yang tidak sistematis dari sasaran sehingga data sukar disusun secara runtut dan lengkap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar