ALIRAN STRUKTURALISME
1. Strukturalisme
Strukturalisme
adalah aliran pertama dalam ilmu Psikologi. Penggagas dari aliran ini adalah
bapak Psikologi, Wilhelm Wundt pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal
berdirinya psikologi sebagai satu disiplin limu yang mandiri, melalui
penelitian laboratorium dengan menggunakan metode Introspeksi. Wundt dan
pengikut-pengikutnya disebut strukturalis karena mereka berpendapat bahwa
pengalaman mental yang kompleks itu sebenarnya adalah “struktur” yang terdiri
atas keadaan-keadaan mental yang sederhana, seperti halnya
persenyawan-persenyawan kimiawi yang tersusun dari unsur-unsur kimiawi.
Ciri-ciri dari strukturalisme Wundt adalah penekanannya pada analisis atau
proses kesadaran yang dipandang terdiri atas elemen-elemen dasar, serta usahanya
menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antar elemen kesadaran
tersebut. Karena pandanganya elementalistik ini, psikologi strukturalisme
disebut juga psikologi elementalisme. Selain dipandang terdiri atas
elemen-elemen dasar, kesadaran, oleh Wundt dan para ahli psikologi lainnya pada
masa itu dipandang sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental.
Menurut Jean
Piaget, strukturalisme itu sulit dikenali karena mencakup bentuk-bentuk yang
beragam sehingga sulit menampilkan sifat umum dan karena “struktur-struktur”
yang dirujuk memperoleh arti yang cenderung berbeda-beda. Struktrur adalah
sistem transformasi yang mengandung kaidah sebagai sistem dan yang melindungi
diri atau memprkaya diri melalui peran tranformasi- tranformasinya, tanpa keluar
dari batas-batasnya atau menyebabkan masuknya unsur-unsur luar. Piaget
menyebutkan tiga sifat yang dimaksud dalam sebuah struktur, yakni: totalitas, transformasi,
dan pengaturan diri. Sebuah struktur kata Piaget harus dilihat sebagai
sesuatu totalitas, meskipun terdiri atas sejumlah unsur, struktur unsur-unsur
itu berkaitan satu sama lain dalam sebuah kesatuan. Dilihat secara hierarkis,
sebuah struktur terdiri atas sejumlah sub struktur yang terikat oleh struktur
yang lebih besar. Dengan demikian, pengertian struktur tidak terbatas pada
konsep terstruktur, tetapi sekaligus juga mencakup pengertian proses
menstruktur. Pengertian transformasi pada dasarnya sejalan dengan konsep tata
bahasa generatif-transformasional Chomsky. Sifat yang dinamis ini berkaitan
dengan kaidah otoregulasi yang ada pada sebuah strutur.
Tokoh strukturalisme
lain adalah Edward Bradford Titcherner (1867-1927). Titcherener merupakan orang
Inggris yang pertama yang mewakili pandangan-pandangan psikologi Jerman
(Wundt). Sebagai murid Wundt, ia menerjemahkan beberapa buku Wundt dalam bahasa
Inggris. Setelah belajar di Leipzig, Titchener ingin kembali ke Oxford, namun
ditolak, karena psikologi di Inggris tidak sejalan dengan Wundt. Oleh karena
itu,ia pergi ke Cornell University di Amerika Serikat, dan sebagai guru besar,
ia mengembangkan strukturalisme di Amerika Serikat dari universitas tersebut.
Titchener-lah pembawa paham strukturalisme Wundt dan termasuk penyebar paham
strukturalisme di Amerika Serikat. Berikut penjelasan singkat mengenai aliran
strukturalisme berdasarkan cara pendekatan, pertanyaan dasar, titik berat, dan
perumusan tentang jiwa.
STRUKTURALISME
|
|
1. Cara pendekatan
|
1. Struktural. Pengalaman
kesadaran dianalisa untuk
diketahui strukturnya.
|
2. Pertanyaan dasar
|
2.
Apakah jiwa itu?
|
3. Titik berat
|
3. Isi kesadaran
|
4. Perumusan tentang jiwa
|
4.
Jiwa adalah jumlah dari pengalaman – pengalaman kesadaran.
|
Tabel:
Penjelasan aliran strukturalisme
2. Metode Introspeksi
Metode yang dipakai
dalam strukturalisme ialah metode Instropeksi atau metode Instropektif.
Introspeksi adalah melihat ke dalam (intro=kedalam; spectare=melihat). Metode
introspeksi ialah suatu metode dimana individu yang menjalani treatment diminta
untuk menceritakan kembali pengalamannya atau perasaannya setelah ia melakukan
suatu eksperimen.
E.
B. Fitchener menyebutkan bahwa introspeksi adalah seorang individu melihat
kedalam dirinya dan melaporkan apa yang dialami sekarang dan pengalaman masa
lalunya seperti perasaan, sikap, reaksi yang ada, harapan, keinginan dan
kesenangannya.
Charles
H. Coaley menggunakan istilah lain untuk intropeksi tersebut dengan Symathetic
Penetration yang artinya metode digunakan untuk mengumpulkan data melalui
proses belajar dari penyidik terhadap dirinya sendiri, kemudian penyidik
menerapkan pada individu lain sebagai objek penyelidikanya untuk memperoleh
data yang diperlukan.
3. Metode Introspeksi Eksperimental
Metode
ini merupakan metode penggabungan dari introspeksi dengan eksperimen, maka
sifat subjektivitas dari metode introspeksi akan dapat diatasi. Pada metode
introspeksi murni hanya dari penelitian yang menjadi objek. Tetapi pada
introspeksi jumlah subjek banyak, yaitu orang-orang yang dieksperimentasi.
Dengan luasnya atau banyaknya subjek penyelidikan hasilnya akan bersifat
objektif.
Kelemahan pokok yang sering
dikemukakan dalam metode ini adalah metode ini bersifat subjektif, karena orang
sering tidak jujur dalam mengadakan penelitian terhadap dirinya sendiri,
apalagi mengenai hal-hal yang tidak baik.
Menurut Wundt istilah introspeksi
ini kurang tepat, yang lebih tepat adalah retrospeksi (retro=kembali dan
spectro=melihat) jadi, penyidik melihat kembali peristiwa-peristiwa kejiwaan
yang terjadi dalam dirinya sendiri.
Sebab, apa yang diselidiki itu adalah apa yang telah terjadi bukan yang
sedang terjadi, misal jika anda dalam kondisi marah anda tidak dapat melihat ke
dalam diri anda jika anda dalam keadaan tersebut. Namun jika anda telah melalui
kondisi tersebut anda dapat melihat ke dalam diri anda, anda dapat bertanya,
mengapa saya marah, apa yang membuat saya marah dan lain-lain.
Oleh karena itu, dengan menggunakan
metode instropeksi secara eksperimental Wundt mencoba mengembangkan penelitian
yang dilakukan berdasarkan analisa elementer untuk menemukan struktur
pengalaman kesadaran dengan menganalisa kedalam unsur-unsurnya.
4.
Kelebihan dan
Kekurangan Metode Introspeksi
a)
Kelebihan:
a.
Pengalaman yang diungkapkan oleh sasaran
tidak banyak dipengaruhi pihak luar
b.
Penyelidik dianggap sebagai orang untuk
menampakkan perasaan oleh seseorang sehingga data dapat diungkap secara
terperinci
c.
Penyelidik dapat menggunakan kesempatan
dalam penggumpulan data untuk memberikan terapi atau jalan keluar dari masalah
yang mungkin dialami sasaran
b)
Kekurangan :
a.
Keterbatasan pengalaman penyelidikan dan
kekurangsempurnaan penyelidik untuk mengungkapkan apa yang dialami dan
pengalaman masa lampau dari individu lain sebagai objek.
b.
Kemungkinan banyak pengalaman masa
lampau yang dilupakan sehingga data tidak lengkap
c.
Ada pengalaman-pengalaman yang tidak
diungkapkan sasaran karena hal tersebut merupakan pengalaman traumatis seperti
pengalaman patah hati
d.
Keenganan sasaran menyebutkan
pengalamannya karena ada rasa malu
e.
Mengungkapkan pengalaman yang tidak
sistematis dari sasaran sehingga data sukar disusun secara runtut dan lengkap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar